6 Faktor Penyebab Gagalnya Perundingan Iran-AS di Islamabad yang Perlu Diketahui

Upaya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung di Islamabad baru-baru ini mengalami kegagalan setelah negosiasi maraton selama hampir 21 jam tidak berhasil mencapai kesepakatan. Meskipun melibatkan pejabat tinggi dari kedua negara dan didukung penuh oleh Pakistan sebagai mediator, pertemuan itu tidak mampu mengatasi ketegangan yang telah terbangun sejak akhir Februari 2026.
Analisis Kegagalan Perundingan
Murad Sadygzade, seorang Presiden Pusat Studi Timur Tengah dan dosen tamu di Universitas HSE Moskow, berpendapat bahwa kegagalan perundingan ini sebenarnya sudah dapat diperkirakan sejak awal. Menurutnya, situasi saat ini menunjukkan ketidakseimbangan kekuatan yang membuat kemungkinan kesepakatan menjadi sangat kecil.
Fokus pada Masa Lalu
Salah satu faktor penyebab gagal perundingan Iran-AS adalah bahwa diskusi lebih terfokus pada isu-isu masa lalu ketimbang masa depan. AS menekankan pada pengawasan program nuklir Iran dan kebebasan navigasi, sedangkan Iran menuntut pengakuan atas kepentingan regional serta kompensasi.
“Secara formal, mereka berbicara tentang masa depan, namun pada kenyataannya, mereka lebih banyak memperdebatkan hal-hal yang sudah berlalu,” ungkap Murad.
Absennya Kepercayaan
Faktor kedua yang menghambat negosiasi adalah kurangnya kepercayaan antara kedua belah pihak. Pernyataan AS yang menyebutkan “penawaran terbaik dan terakhir” justru dipandang sebagai ultimatum oleh Iran.
“Nada semacam itu bukanlah undangan untuk berdamai, melainkan menunjukkan superioritas yang justru menutup peluang untuk kompromi,” jelasnya.
Kondisi Terdesak AS
Ketiga, kondisi yang dihadapi AS saat memasuki meja perundingan dinilai tertekan. Konflik yang berkepanjangan telah mengguncang pasar energi dan meningkatkan tekanan pada perekonomian global.
“Washington membutuhkan jeda lebih dari yang ingin mereka akui,” tambah Murad, menunjukkan urgensi strategi yang dihadapi pihak AS.
Tekanan Politik Domestik
Faktor keempat adalah tekanan politik domestik di AS yang mempersempit ruang gerak untuk negosiasi. Aturan mengenai penggunaan kekuatan militer dan perpecahan di dalam politik AS membuat posisi pemerintah menjadi tidak solid.
“Ketika satu pihak tertekan oleh waktu politik domestik, insentif untuk melakukan konsesi justru semakin menurun,” tambahnya.
Kelemahan Koalisi Internasional
Kelima, kegagalan membangun koalisi internasional yang solid juga memperlemah posisi tawar AS. Dukungan dari sekutu, termasuk negara-negara Eropa, tidak sepenuhnya kompak dalam menghadapi konflik ini.
“Kekuatan AS paling efektif ketika tampil sebagai bagian dari kekuatan kolektif, namun hal itu tidak terjadi dalam kasus Iran,” ungkap Murad.
Posisi Tawar Iran yang Menguat
Akhirnya, posisi tawar Iran semakin kuat di tengah konflik, terutama setelah mereka berhasil mempengaruhi jalur strategis di Selat Hormuz. Dukungan domestik terhadap pemerintah Iran juga meningkat, memberi mereka posisi tawar yang lebih baik.
“Iran tidak merasa sebagai pihak yang kalah, sehingga mereka menuntut harga tinggi untuk deeskalasi,” terang Murad.
Murad menegaskan bahwa kegagalan ini mencerminkan batas pendekatan lama yang diterapkan oleh AS di Timur Tengah. Model pendekatan yang mengedepankan tekanan diikuti dengan tawaran kompromi sudah tidak lagi efektif untuk menghadapi Iran dalam kondisi saat ini. Dengan situasi ini, peluang untuk mencapai kesepakatan damai dalam waktu dekat semakin menipis, sementara risiko terjadinya konflik yang lebih besar tetap menjadi ancaman nyata.